Bamsoet : Covid-19 Lebih Dahsyat Dibandingkan Bom Bali 2002

Indoupdate.net – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai, dampak ekonomi pandemi virus corona (Covid-19) di Bali lebih dahsyat dibandingkan bom Bali pada 2002 maupun krisis global pada 2008.

Bamsoet menjelaskan, agar kepercayaan internasional terhadap Bali cepat pulih, penanganan Covid-19 harus menjadi prioritas Pemerintah Provinsi Bali. Salah satunya dengan mengoperasikan rumah sakit khusus Covid-19 sehingga pasien positif Covid-19 tak berada dalam satu rumah sakit yang sama dengan pasien akibat penyakit lainnya.

“Beberapa hari lalu, salah satu rumah sakit swasta di Tabanan menjadi kluster penyebaran Covid-19 akibat merawat pasien Covid-19. Karena itu, sangat penting bagi setiap daerah memiliki banyak rumah sakit khusus yang menangani Covid-19. Sehingga pelayanan kesehatannya bisa fokus. Di sisi lain, dengan adanya rumah sakit khusus Covid-19, pasien penyakit lain yang sedang menjalani rawat inap maupun rawat jalan juga bisa tenang menjalani proses pengobatan,” kata Bamsoet usai menyerahkan 5.000 rapid test kepada Gubernur Bali I Wayan Koster, di Bali, Rabu (24/6/20/20).

Mantan Ketua DPR RI tersebut bersama Gerak BS Bali menyumbang 5.000 rapid test ke Pemprov Bali dengan harapan bisa memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19. Semakin banyak warga Bali yang di test, akan semakin besar peluang Bali keluar dari pandemi Covid-19. Hal in mengingat kunci utama memutus mata rantai covid-19 adalah melalui tracking (pelacakan), tracing (penelusuran) dan testing (pengujian). Bantuan tersebut langsung diterima Gubernur Bali I Wayan Koster di Rumah Dinas Gubernur Jaya Sabha, Denpasar.

“Sebagai daerah yang menurut Bank Indonesia 54-58 persen perekonomiannya disumbang dari sektor pariwisata, pandemi Covid-19 sangat memukul rakyat Bali. Di tahun 2019 lalu, ada sekitar 6,24 juta wisatawan asing yang menikmati keindahan Bali. Di awal tahun 2020, jumlah kunjungan wisatawan asing masih berkisar 500 ribu per bulan,” kata Bamsoet.

“Namun sejak ditemukan pasien postif Covid-19 di Bali pada Maret 2020, jumlah wisatawan turun drastis menjadi 165 ribu. Akibatnya, perekonomian di Bali pada kuartal 1 2020 minus 1,14 persen, paling dalam se-Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menambahkan, mengingat berbagai negara belum memberlakukan penerbangan internasional secara penuh, proses pemulihan ekonomi Bali dari wisatawan asing juga tak akan berlangsung cepat. Karenanya sangat penting bagi Bali untuk memaksimalkan pelayanan terhadap wisatawan domestik. Bukan menjadi rahasia, di berbagai tempat wisata di Bali, terkadang wisatawan domestik seringkali dinomorduakan.

“Hal ini sudah diakui Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati yang menilai Bali terlalu fokus melayani wisatawan asing hingga kadang melupakan wisatawan domestik yang notabene merupakan saudara sebangsa. Pandemi Covid-19 telah membuka mata kita semua, bahwa di saat keadaan susah datang, saudaralah yang pertama kali memberikan pertolongan. Karena itu, jangan ada lagi cerita wisatawan domestik tidak merasakan kenyamanan saat berlibur di rumahnya sendiri,” tutur Bamsoet.

(Hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Follow